Imam Abu Ishak asy-Sya’tibi (w. 790 H) menyatakan: “ Bahwa Ushulu fiqh dalam agama harus dibangun dengan dalil-dalil qath’i, bukannya dengan dalil-dalil dzani. Seandainya boleh menjadikan dalil dzani sebagai dalil dalam masalah ushul seperti ushul fiqh maka juga membolehkan (hadis ahad-pent) sebagai dalil dalam masalah ushul ad-din (aqidah –pent) dan hal ini jelas tidak diperbolehkan menuruj ijma’ (kesepakatan-pent). Karena masalah ushul fiqh juga dinisbahkan dalam masalah Ushul ad-din” (al-Muwafaqat fi Ushuli asy-Syar’iyah -pent)
Imam Asnawi menyatakan: “Syara’ memperbolehkan dalil dzani dalam masalah-masalah amaliyah yaitu masalah furu’ tanpa amaliyah dalam masalah Qowaid Ushul Ad-din. DemikianlahQowaid Ushul Ad-din sebagaimana dinukil oleh Al-Anbari dalam Kitab Syarah burhan dari para Ulama yang terpercaya.” (Nihayah Fi Ilm’ al-Ushul)
Imam Ibn Taimiyah berkata: “Khabar ahad yang telah diterima (terbukti shohih-pent) wajib mewajibkan ilmu menurut jumhur sahabat Abu Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad. Dan ini merupakan pendapat kebanyakan sahabat Imam Asy’ari seperti al-Asfaraini dan Ibn Faruk. Tetapi hadis Ahad hukum asalnya tidak berfaedah kecuali dzani. Bila ia didukung dengan ijma’ ahlul ilmi dengan hadis lainnya maka ia dapat memberi faedah yang pasti (naik derajatnya menjadi hadis mutawatir maknawi –pent) (Lihat Majmu Fatwa juz 18, hlm. 41)
Imam az-Zamakhsari, menambahkan: “Imam Malik berpendapat barang siapa sholat dengan membaca qira’at (bacaan –pent) Ibn Mas’ud yang tidak Mutawatir dan tidak termasuk qira’at para shahabat, maka ia telah menyelisihi mushfah (Mushhaf Imam yang mutawatir-pent) dan janganlah sholat di belakangnya” (al-Burhan Fi Ulumil Qur’an juz I/hlm. 222)
Imam Jamaluddin al-Qasimi menyatakan: “Sesungguhnya jumhur kaum muslimin dari kalangan sahabat, tabi’in, golongan setelah mereka dari kalangan fuqaha, ahli hadis, dan ulama ushul berpendapat bahwa hadis ahad yang terpercaya dapat dijadikan hujjah dalam masalah tasyri’ yang wajib diamalkan, tetapi hadis ahad ini hanya menghantarkan pada Dzan tidak sampai derajat ilmu (yakin)” (Qawaidut Tahdis, hlm. 147-148)
Imam Kasani menyatakan: “Pendapat sebagian besar fukoha menerima hadis ahad yang terpercaya dan adil serta diamalkan dalam masalah tasyri’ kecuali masalah aqidah, sebab I’tiqod wajib dibangun dengan dalil-dalil yang qoth’I, yang tidak ada keraguan didalamnya, sementara masalah amal (tasyri’) cukup dengan dalil yang rajih (kuat) saja.” (Qawaidut Tahdis, hlm. 147-148)
Imam Abi Muhammad Abdurrahim bin Hasan al-Asnawi (w. 772 H), berkata: “Hadis Ahad hanya menghasilkan persangkaan saja. Allah SWT membolehkan hanya dalam massalah amaliyah (tasyri’), yang menjadi cabang-cabang agama, bukan masalah ilmiah seperti kaidah-kaidah pokok hukum agama.” (Syarh Asnawi Nihayah as-Saul Syarh Minhaju al-Wushul Ila Ilmi al-Ushul al-Baidhawi, juz 1/hlm. 214).)
Imam Abu Ishak Ibrahim bin Ali bin Yusuf asy- Syairazi (w. 476 H) menyatakan: “ Hadis Ahad tidak menghasilkan keyakinan (ilmu qath’i).” (at-Tabshirah fi Ushuli al-Fiqh dan al-Luma’ fi Ushul al-Fiqh)
Imam Muhammad bin Ali bin Muhammad asy-Syaukani (w. 1255 H) mengatakan: “Hadis Ahad menghasilkan dzan’.’ (Irsyad al-Fuhul ila Tahqiq al-Haq min Ilmi al-Ushul, hlm. 46 dst)
Syeikh Hasan bin Muhammad bin Mahmud Al-Athar (w. 1250 H) menyatakan: “Hadis Ahad menghasilkan Dzan.’’(Hasiyah al-Athar ala Syarh al-Mahali ala Jam’i jawami’ as-Subki, juz /hlm 146)
Al-Hafidz Ibn Hajar al-Asqolani mengatakan: “Hadis ahad tidak berfaedah kecuali dzan, apabila tidak sampai derajat mutawatir.(Fathul Bari, juz 13/hlm. 238)”
Imam al-Amidi menyatakan: “Sebagian sahabat kami menyatakan bahwa hadis ahad memberikan faedah dzan (prasangka) (al-Ihkam Lil Amidi, 2/hlm 34))
Syeikh Shadr asy-Syarif Ubaidilah bin Mas’ud (w. 747 H) menyatakan: “Hadis Ahad tidak menghasilkan keyakinan/Dzan.’’ (at-Talwih Syarh at-Taudhih li Matan at-Tanqih, juz 2/hlm. 303)
Syeikh Kamal bin Hamam (w. 861 H) dan Syeikh Ibn Amir Al-Haj (w. 879 H) menyatakan: “Hadis Ahad menghasilkan Dzan” (at-Taqrir wa at-Tahbir Syarh Kabir, juz 2/hlm. 235-236).)
Imam Alaudin bin Abdi Al-Aziz Al-Bukhari (w.730 H) menyatakan: Hadis Ahad menghasilkan keraguan/Dzan” (( Kasfu al-Asrar An Ushul al-Bazdawi, juz 2/hal 360)
Dr. Wahbah Zuhaili menegaskan bahwa: “Hadis Ahad menghasilkan Dzan” (Ushul al-Fiqh al-Islami, juz 1/hlm. 451)
Imam Muhammad Abu Zahrah menyatakan: “Hadis Ahad berfaedah Dzan.” (Ushul al-Fiqh, hlm. 83-84)
Syeikh Muhammad al-Khudhari berkata: “Hadis ini (hadis ahad –pent) adalah menghasilkan Dzan.” (Ushul al-Fiqh, hal. 214-215)
Syeikh Muhammad Musthafa Syalbi menyatakan: “Hadis Ahad menghasilkan Dzan.” (Ushul al-Fiqh al-Islami, hlm. 139)
Syeikh Hafidz Tsanauullah Az-Zahidi tatkala menjelaskan tentang Bab Fardhu, beliau berkata: “Fardhu Amali atau dzan adalah apa yang ditetapkan dengan dalil Dzani Tsubut dan Qoth’i Dalalah, yang statusnya lebih kuat dari al-Wajib al-Istilahi dan lebih ringan dari al-Fardhu al-Qath’i’’. Selanjutnya beliau menambahkan: “Hukum Fardhu Amali adalah wajib untuk diamalkan tetapi tidak untuk dalil untuk masalah i’tiqad, maka tidak kafir orang yang mengingkarinya.” (Taisiru al-Ushul, hlm. 156-158)
Menurut Jumhur Ulama Hanafiyah wajib adalah apa yang telah ditetapkan dengan dalil qath’i dalalah dan dzan tsubut (termasuk hadis ahad-pent) atau dzon dilalah dan qoth ‘i tsubut dengan penegasan dan penekanan atas tuntutannya (Al-Syadah wa Al-Jazm fi Ath-Tholab) atau dengan kata lain adalah apa dengan dalil yang mewajibkan Ilmu untuk diamalkan tetapi tidak mewajibkan ilmu yaqin, karena ada stubhat/keraguan dalam jalannya.” (Ushul as-Sarkhasi, juz 1/hlm. 111)
Imam Zainuddin bin Ibrahim Ibnu Najim (w. 970 H) menyatakan hal sama dengan Imam as-Sarkhasi bahwa hadis Ahad (Dzan Tsubut-pent) wajib diamalkan, tetapi tidak untuk masalah i’tiqad (Aqidah-pent). (Lihat Fath al-Ghaffar al-Ma’ruf bi Misykah al-Anwari, juz 2/hlm. 63)
Imam Al-Khobazi menyatakan hal yang tidak jauh berbeda dengan pendapat Imam As-Sarkhasi dan Imam Ibnu Najim tentang status hadis ahad. (Lihat Kitab Al-Mughni fi Al-Ushuli Al-fiqhi Li al-Khabazi, hlm. 84)
*Syeikh Muhammad Umar Bakri (Rektor Institut Syari’ah Islam London-Inggris) dan Muhammad Lazuardi Al-Jawi
Bacaan Selanjutnya : Sekali Lagi Tentang Hadits Ahad (7) : Pendapat Para Ulama Kontemporer
0 Komentar (Pendapat Antum):
Post a Comment